Aku telah mati setelah tahu bahwa Mark Zuckerberg tidak minum kopi…

Hari ini baca buku Filsafat Kebahagiaan dari Guru Spiritualku, Fahruddin Faiz.

Dimulai dari Plato, murid Socrates. Salah satu titik balik di hidupnya adalah pertemuannya dengan Socrates. 

Berikut hal-hal yang aku pelajari : 

Pertama, Ia menganggap bahwa seorang raja haruslah memiliki pemikiran filsuf agar bisa menjalankan negara dengan baik.

Kedua, Plato penganut esensialisme. Bahwa esensi dari manusia itu adalah jiwanya. Dan jiwa itu tidak bisa didefinisikan sebagai apa. Jiwa adalah “sesuatu” yang menggerakkan dirinya sendiri. Ibarat sopir yang mengendarai mobil. Sopir itulah jiwa. Jadi tidak bisa kita bertanya siapa yang menggerakkan sopir? Tidak ada, sebab dialah yang menyupiri dirinya sendiri. Dan mobil itulah badan kita.

Ketiga, Plato percaya bahwa barang yang terlihat, yang fisikal dan duniawi itu sifatnya sementara. Yang sejati adalah yang bersifat non-fisik. Dunia idea. Dan itulah yang dikejar habis-habisan oleh para filsuf dunia.

Keempat, jiwa mengandung tiga unsur, tapi diwarnai oleh satu unsur lain : 


Epithumia → nafsu manusia (rendah) → nafsu makan, minum, seks.

Thumos → hasrat, ambisi, harga diri

Logistikon → akal, rasio

Eros → cinta


Epithumia (gentong bocor)

Plato menggambarkan Epithumia seperti gentong bocor, yang tidak pernah penuh meski diisi sebanyak apapun. Manusia jika hanya menuruti nafsunya yang tidak pernah puas, maka hidupnya tidak akan berkualitas. 

Tetapi menurut Pak Fahruddin Faiz, nafsu ini jangan dibunuh, sebab sebagai manusia kita tetap butuh makan, minum dan seks. Hanya saja sebagai jomblo, jika muncul keinginan untuk melakukannya, ambillah wudhu lalu salat. Begitu kata beliau. 

Urusan gentong bocor tidak perlu terlalu dipikirkan. Penuhi sesuai batasannya dan jangan berlebihan.

Plato berkata bahwa jika kamu ingin menjadi filsuf sejati, matilah, atau sekaratlah. Sapihlah jiwamu dari badanmu. 

Pernyataan itu cukup ekstrem, tapi keren, setidaknya menurutku. 

Dan, ini mengingatkanku tentang percakapan dengan seorang teman dari Hindustan. Sekitar satu bulan lalu, setelah sekian lama tak kubalas pesannya, dia mengirim pesan :

You alive?”. 

Aku menjawab “Aku telah mati setelah tahu bahwa Mark Zuckerberg tidak minum kopi…




Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti apa makna yang kukatakan saat itu. Aku hanya asal ceplos.

Hari-hari berlalu hingga aku menemukan informasi bahwa orang-orang besar seperti Elon Musk bahkan suka melewatkan sarapan. Jack Dorsey (pendiri Twitter) menjalani puasa ekstrem, hanya makan satu kali sehari, yaitu di malam hari.

Ada yang mengatakan bahwa makan hanya membuang-buang waktu, itulah mengapa mereka hanya makan secukupnya. 

Dan hidup mereka memang berkualitas. Mereka mampu menciptakan sesuatu sehingga bermanfaat untuk manusia lainnya. 

Akhirnya aku mencoba ikut tidak sarapan. Awalnya hanya iseng. Tapi makin ke sini, aku jadi terbiasa. Mungkin inilah manifestasi dari ucapanku sendiri, “Aku telah mati setelah tahu bahwa Zuck tidak minum kopi…

Apakah ini tandanya aku telah menjadi filsuf?

Atau hanya manusia biasa yang sedang belajar menyapih jiwanya dari tubuhnya?

Haha.


__

Menurutku buku ini sangat worth untuk dibeli sebab meski pembahasannya tentang filsafat yang terkenal "jelimet", namun bahasanya sangat mudah dimengerti oleh anak muda.

Beli di sini https://s.shopee.co.id/30cBDFZbUs

Comments

Popular posts from this blog

A New Beginning